Logistik

Apa Itu Reorder Point? Pengertian dan Cara Menghitungnya

reorder point

Untuk meminimalisir kondisi kehabisan stok barang dalam suatu bisnis, maka Anda perlu mempelajari mengenai reorder point. Jika Anda telah melakukan perhitungan ini secara cermat, tentu akan terhindar dari penumpukan stok barang yang ada di gudang. Dengan melakukan proses ini, biasanya proses pemesanan barang akan berlangsung dengan lebih cepat dan lancar tanpa hambatan.

Apa Itu Reorder Point?

Reorder point adalah level persediaan tertentu di mana sebuah perusahaan memutuskan untuk memesan kembali produk untuk mencegah kekurangan stok. Titik ini ditentukan berdasarkan penggunaan rata-rata harian barang tersebut dan waktu yang diperlukan untuk menerima pesanan baru (lead time). 

Baca Juga : Cycle Counting: Pengertian, Manfaat dan Perbedaan dengan Stock Opname

ROP menjadi bagian penting dari manajemen inventaris yang efektif, karena membantu perusahaan menjaga keseimbangan stok barang. Dengan menghitung ROP secara akurat, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi biaya, dan meningkatkan kepuasan pelanggan.

Cara Menghitung Reorder Point

Menghitung ROP memerlukan pemahaman tentang beberapa komponen dasar, penggunaan harian rata-rata, lead time, dan safety stock. Untuk memperjelas pemahaman Anda, berikut adalah langkah-langkah rinci untuk menghitung reorder point:

1. Tentukan Penggunaan Harian Rata-Rata

Langkah awal menghitung ROP bisa dimulai dengan menentukan jumlah rata-rata unit barang yang digunakan atau dijual setiap hari. Caranya sangatlah mudah, Anda bisa menghitung rata-rata unit yang terjual berdasarkan data penjualan historis.

Penggunaan Harian Rata-Rata = Total Penggunaan dalam Periode Tertentu/Jumlah Hari dalam Periode Tersebut

Contoh: Jika dalam 30 hari, sebuah perusahaan menggunakan 300 unit barang, maka: 

Penggunaan Harian Rata-Rata =300 unit/30 hari =10 unit/hari

2. Tentukan Lead Time

Lead time adalah waktu yang diperlukan sejak pemesanan ulang dilakukan hingga barang diterima dan tersedia untuk digunakan atau dijual. Lead time bisa mencakup waktu pemrosesan pesanan, pengiriman, dan penerimaan.

Contoh: Jika waktu yang diperlukan untuk menerima barang setelah memesan adalah 7 hari, maka lead time adalah 7 hari.

3. Tentukan Safety Stock (Persediaan Pengaman)

Safety stock adalah tambahan stok yang disimpan untuk mengantisipasi fluktuasi permintaan atau penundaan dalam lead time. Besarnya safety stock bisa bervariasi tergantung pada ketidakpastian dalam permintaan dan lead time.

Contoh: Jika perusahaan memutuskan untuk menyimpan safety stock sebanyak 30 unit.

4. Hitung Reorder Point

Jika Anda ingin menemukan nilai ROP, tentu tidak bisa dilakukan secara sembarangan dan ada rumus yang bisa digunakan. Supaya lebih memudahkan Anda dalam memperoleh hasil, berikut adalah rumus reorder point:

Reorder Point = (Penggunaan Harian Rata-Rata × Lead Time) + Safety Stock

Contoh: Dengan penggunaan harian rata-rata 10 unit, lead time 7 hari, dan safety stock 30 unit, maka: 

Reorder Point=(10 unit/hari × 7 hari) + 30 unit =70 unit + 30 unit =100 unit

Perbedaan Safety Stock dan Reorder Point

Safety stock dan reorder point adalah dua konsep penting dalam manajemen inventaris, tetapi keduanya memiliki tujuan dan fungsi yang berbeda. Berikut penjelasan tentang perbedaan antara safety stock dan reorder point:

1. Definisi

Safety stock adalah jumlah tambahan persediaan yang disimpan sebagai cadangan untuk mengantisipasi fluktuasi permintaan atau ketidakpastian dalam lead time. Sedangkan, reorder point adalah level persediaan tertentu di mana pemesanan ulang barang harus dilakukan untuk memastikan barang tiba tepat waktu.

Fulfillment Banner

2. Tujuan

Tujuan safety stock adalah untuk mencegah kekurangan stok yang mungkin terjadi karena permintaan yang lebih tinggi dari perkiraan. Sedangkan ROP tujuannya untuk menentukan kapan harus memesan ulang barang agar tidak terjadi kekurangan stok, memastikan bahwa persediaan selalu tersedia.

3. Penggunaan

Safety stock digunakan sebagai buffer, ini hanya digunakan ketika permintaan lebih tinggi dari yang diperkirakan atau ketika ada penundaan dalam pengiriman. Sedangkan ROP merupakan sinyal untuk memulai proses pemesanan ulang, ketika stok mencapai titik ini, pesanan baru harus dibuat untuk mengisi ulang persediaan.

4. Penentuan

Dihitung berdasarkan variabilitas permintaan dan lead time yang dipengaruhi oleh tingkat layanan, variabilitas permintaan harian, dan variabilitas. Sedangkan untuk menemukan reorder point dapat dihitung berdasarkan penggunaan harian rata-rata dan lead time. Pada dasarnya, safety stock dan reorder point adalah dua konsep yang saling melengkapi dalam manajemen inventaris. 

Safety stock berfungsi sebagai buffer untuk mengatasi ketidakpastian, sedangkan reorder point adalah titik di mana pemesanan ulang dilakukan untuk memastikan stok tidak habis. Mengelola kedua elemen ini secara efektif membantu perusahaan menjaga keseimbangan stok untuk memenuhi permintaan tanpa menyimpan terlalu banyak inventaris.

Dapat disimpulkan bahwa reorder point adalah alat penting dalam manajemen inventaris yang membantu menjaga keseimbangan stok tanpa menyimpan terlalu banyak. Dengan menghitung dan mengelola ROP secara efektif, bisnis dapat meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi biaya penyimpanan, dan meningkatkan kepuasan pelanggan. 

Implementasi yang tepat dari konsep ROP memungkinkan bisnis untuk lebih responsif terhadap perubahan dalam permintaan dan kondisi pasar.
Itulah pembahasan lengkap mengenai reorder point dan semoga semua bahasannya bisa bermanfaat buat para pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *