Jika barang rusak saat pengiriman, siapa yang bertanggung jawab? Pertanyaan ini sering muncul ketika paket yang diterima tidak sesuai harapan, baik karena penyok, pecah, hingga isi yang tidak berfungsi. Dalam proses distribusi, kerusakan bisa terjadi akibat pengemasan yang kurang tepat, kesalahan penanganan, atau faktor eksternal selama pengiriman.
Karena itu, penting bagi pengirim maupun penerima untuk memahami batas tanggung jawab masing-masing pihak, termasuk peran jasa ekspedisi serta prosedur klaim yang berlaku agar tidak mengalami kerugian.
Agar tidak salah langkah saat menghadapi situasi ini, simak penjelasan lengkapnya di bawah dan temukan solusi terbaik untuk melindungi barang kiriman Anda.
Siapa yang Bertanggung Jawab atas Paket yang Rusak?
Barang rusak saat dikirim, tanggung jawab siapa? Pada dasarnya, hal ini tergantung dari faktor kerusakan paket dari beberapa pihak yaitu bisa jadi disebabkan oleh kelalaian ekspedisi, kesalahan pengemasan dari pengirim, atau bahkan kurangnya kehati-hatian saat penerimaan oleh pembeli.
Untuk memahaminya lebih jelas, berikut pembagian tanggung jawabnya:
Tanggung Jawab Ekspedisi atau Jasa Pengiriman
Pihak ekspedisi bertanggung jawab apabila kerusakan terjadi karena kelalaian dalam proses pengiriman. Tanggung jawab ini biasanya berlaku jika ditemukan kesalahan seperti:
- Kelalaian Kurir: misalnya paket tertindih, dilempar, atau diperlakukan secara kasar saat pengantaran
- Kelalaian Operasional: penanganan tidak sesuai SOP di gudang atau saat sortir
Contoh kasus yang sering terjadi antara lain paket tertindih barang lain, dilempar saat proses distribusi, perlakuan kasar selama pengiriman, atau sistem handling yang tidak sesuai standar. Dalam kondisi ini, pengirim atau penerima dapat mengajukan klaim sesuai kebijakan dan syarat yang berlaku di jasa pengiriman.
Baca juga: Cara Mengirim Paket Barang lewat Ekspedisi dengan Aman
Tanggung Jawab Seller atau Pengirim
Tanggung jawab juga bisa berada di pihak pengirim apabila kerusakan terjadi akibat kesalahan dalam proses pengemasan. Beberapa penyebab yang umum terjadi, antara lain:
- Packing tidak sesuai standar keamanan barang
- Tidak memberikan label fragile untuk barang mudah pecah
- Barang tidak sesuai dengan deskripsi yang tercantum di resi
Jika pengemasan kurang aman sejak awal, maka risiko kerusakan selama pengiriman akan meningkat. Karena itu, seller wajib memastikan barang sudah dipacking dengan material yang memadai dan sesuai jenis produknya.
Tanggung Jawab Pembeli atau Penerima
Dalam beberapa situasi, penerima juga dapat ikut bertanggung jawab apabila kerusakan terjadi karena kelalaian saat proses penerimaan. Contohnya:
- Tidak meminta atau menggunakan packing ekstra untuk barang tertentu
- Tidak menggunakan asuransi pengiriman untuk barang bernilai tinggi
- Proses unboxing tidak hati-hati saat paket diterima
- Tidak memiliki bukti rekaman video unboxing sebagai bukti klaim
Bukti dokumentasi seperti video unboxing sering kali menjadi syarat penting dalam proses klaim. Tanpa bukti yang jelas, pengajuan ganti rugi bisa lebih sulit diproses.
Dengan memahami pembagian tanggung jawab ini, Anda bisa lebih bijak dalam mengirim maupun menerima paket, sekaligus meminimalkan risiko kerugian akibat barang rusak saat pengiriman.
Apa yang Terjadi jika Paket Rusak Selama Pengiriman?
Berikut beberapa konsekuensi yang biasanya terjadi:
1. Pihak Ekspedisi Akan Melakukan Investigasi
Jika terjadi laporan barang rusak, pihak ekspedisi umumnya akan melakukan investigasi untuk mengetahui penyebabnya. Proses ini meliputi pengecekan riwayat pengiriman, kondisi paket saat sortir, hingga konfirmasi ke kurir yang bertugas.
Tujuannya adalah memastikan apakah kerusakan terjadi karena kelalaian operasional atau faktor lain seperti packing yang kurang aman. Hasil investigasi ini menjadi dasar keputusan klaim ganti rugi.
Baca juga: 10+ Penyebab Paket Terlambat Datang & Cara Mengatasinya
2. Seller atau Ekspedisi Akan Dapat Review Buruk
Kerusakan barang bisa berdampak pada reputasi. Pembeli yang kecewa berpotensi memberikan ulasan negatif, baik kepada seller maupun jasa pengiriman.
Dalam bisnis online, review buruk dapat menurunkan tingkat kepercayaan calon pelanggan dan memengaruhi penjualan di masa depan. Karena itu, penanganan komplain yang cepat dan solutif sangat penting untuk menjaga reputasi.
3. Biaya Operasional Membengkak Akibat Return
Paket rusak sering kali berujung pada proses retur atau pengiriman ulang barang. Hal ini tentu menambah biaya operasional, mulai dari ongkos kirim tambahan, biaya packing ulang, hingga potensi kerugian barang yang tidak bisa dijual kembali.
Jika terjadi berulang, kondisi ini bisa mengganggu cash flow bisnis, terutama bagi seller skala kecil hingga menengah.
Kerusakan paket selama pengiriman bukan hanya soal barang yang cacat, tetapi juga menyangkut waktu, biaya, dan reputasi. Oleh karena itu, penting bagi pengirim dan jasa ekspedisi untuk memastikan proses pengemasan dan distribusi dilakukan sesuai standar agar risiko kerugian bisa diminimalkan.
Bagaimana Tanggung Jawab Pengangkut atas Rusaknya Barang Kiriman?
Tanggung jawab pengangkut (jasa pengiriman) berlaku apabila kerusakan terjadi akibat kelalaian selama proses pengiriman, seperti kesalahan penanganan, penyimpanan, atau distribusi yang tidak sesuai standar operasional.
Dalam kondisi ini, pengirim atau penerima berhak mengajukan klaim ganti rugi sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, termasuk ketentuan asuransi jika digunakan.
Namun, jika kerusakan disebabkan oleh packing yang tidak sesuai atau kesalahan dari pengirim, maka tanggung jawab bisa berada di pihak pengirim.
Cara Klaim Barang Rusak Agar Disetujui
Berikut langkah-langkah yang perlu diperhatikan saat melakukan klaim barang rusak saat pengiriman agar disetujui:
1. Cek Ketentuan Asuransi Pengiriman
Pastikan terlebih dahulu apakah paket Anda menggunakan asuransi pengiriman. Baca syarat dan ketentuan asuransi pengiriman yang berlaku, termasuk jenis kerusakan yang ditanggung serta nilai maksimal ganti rugi.
2. Pastikan Ada Video Unboxing (Syarat Utama)
Video unboxing menjadi salah satu bukti terpenting dalam proses klaim. Rekam proses pembukaan paket secara utuh tanpa jeda untuk menunjukkan kondisi awal paket hingga isi di dalamnya.
Baca juga: Cara Menulis Alamat Paket yang Benar (Standar Ekspedisi)
3. Perhatikan Batas Waktu Pengajuan Klaim
Setiap ekspedisi memiliki batas waktu klaim, misalnya 1×24 jam atau 2×24 jam setelah paket diterima. Jika melewati batas waktu, klaim bisa ditolak.
4. Siapkan Bukti Foto Kerusakan dan Resi Pengiriman
Selain video, siapkan foto detail bagian yang rusak, kondisi kemasan luar, label pengiriman, serta resi sebagai bukti bahwa paket memang dikirim melalui layanan tersebut.
5. Hubungi Penjual atau Customer Service Ekspedisi
Segera laporkan kejadian ke seller (jika pembelian online) atau langsung ke customer service ekspedisi. Sampaikan kronologi secara jelas agar laporan dapat diproses lebih cepat.
6. Tanyakan Solusi yang Ditawarkan
Setiap pihak biasanya memiliki kebijakan berbeda, mulai dari penggantian barang, refund, hingga kompensasi tertentu. Pastikan Anda memahami opsi solusi yang tersedia.
7. Gunakan Formulir atau Surat Klaim Resmi
Beberapa jasa pengiriman mewajibkan pengisian formulir klaim resmi. Isi data dengan lengkap dan sesuai fakta agar tidak terjadi kendala administrasi.
8. Ikuti Prosedur Klaim Sesuai Ketentuan
Ikuti seluruh tahapan klaim sesuai arahan, termasuk jika diminta mengembalikan barang rusak untuk proses pengecekan lebih lanjut. Kepatuhan pada prosedur akan memperbesar peluang klaim disetujui.
Dengan mengikuti langkah-langkah di atas secara lengkap dan tertib, peluang klaim barang rusak untuk disetujui akan jauh lebih besar. Pastikan Anda selalu menyimpan bukti pengiriman dan mendokumentasikan kondisi paket sejak pertama kali diterima agar terhindar dari kerugian.
Nah itulah pembahasan tentang siapa yang bertanggung jawab atas barang rusak ketika paket dikirim. Baik pengirim, ekspedisi, maupun penerima memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing.
Karena itu, penting untuk memastikan packing sesuai standar, menggunakan asuransi untuk barang bernilai tinggi, serta mendokumentasikan proses unboxing sebagai bukti.
Dengan memahami alur tanggung jawab dan prosedur klaim yang benar, Anda dapat meminimalkan risiko kerugian dan menjaga proses pengiriman tetap aman serta terpercaya.

